HALAMAN

Thursday, 5 November 2015

REMAJA DAN TANTANGAN MASA DEPAN



Alexis Carrel, penulis buku “Man, The Unknown”, berpendapat bahwa otak manusia berkembang seperti orang berlari jarak jauh. Pada awalnya mereka berlari pelan, kemudian makin cepat dan makin cepat, menjelang finis mereka berlari pelan karena sudah kehabisan tenaga, dan finis berhenti, tidak berlari lagi. Demikian halnya otak manusia, pada awalnya berkembang pelan kemudian semakin cepat dan cepat, akhirnya menurun sampai otak itu tidak berkembang lagi. Perkembangan otak paling pesat adalah pada masa kanak-kanak sampai remaja dan dewasa awal (sampai usia sekitar 28 tahun).

Pada masa remaja, perkembangan otak manusia sedang mengalami pertumbuhan paling pesat. Di saat inilah seharusnya remaja meng-enter otaknya dengan data-data yang bermanfaat sebanyak-banyaknya, bukan mengisinya dengan data-data yang tidak bermanfaat, jorok, romantisme picisan, dan entries lain yang merugikan.

Pepatah Inggris mengatakan: The future of your future is today (Masa depannya masa depanmu adalah hari ini). Pepatah itu mengingatkan bahwa masa depan seseorang ditentukan oleh apa yang telah dilakukan di masa remaja sekarang. Masa remaja seharusnyalah digunakan untuk membekali diri untuk mengahdapi masa depan dengan sebaik-baiknya, bukan diisi dengan foya-foya dan melakukan tindakan lain yang tidak jelas arah tujuannya. Masa remaja harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menyongsong masa depan karena, jelas, masa depan itu berbeda dari masa sekarang. Berbeda waktu, peluang, dan berbeda tantangan.

Paling tidak ada empat tantangan yang harus diantisipasi di masa mendatang. Pertama, perkembangan IPTEK. Kedua, kemerosotan moral. Dan ketiga, peluang kerja yang makin berkurang.

Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) berkembang sangat pesat, terutama bidang infromasi dan transportasi. Akibatnya dunia terasa makin berjarak pendek. Apa yang terjadi di suatu tempat dengan cepat bisa diketahui di tempat lain, bahkan oleh seluruh dunia. TV, telpon, HP, bahkan internet bukanlah barang mahal dan sulit lagi. Masyarakat kota sampai pelosok desa sudah akrab dengan teknologi ini. Perkembangan akhir-akhir ini menunjukkan bahwa teknologi komunikasi itu semakin canggih, praktis, dan mudah. Semua orang bisa mengakses banyak hal dengan teknologi itu. Sekarang tergantung manusianya, apakah kemudahan akses itu bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mengembangkan diri? Atau malah digunakan untuk “meracuni” diri dengan informasi-informasi yang tidak bermanfaat? Dengan internet, misalnya, kita bisa belajar apa saja ynag kita butuhkan, mulai dari ilmu agama, keterampilan, bisnis, pelajaran, kelompok diskusi, sampai resep-resep dapur. Atau sebaliknya, internet bisa juga untuk mengakses pornografi/aksi, gosip, menyebar fitnah, membuka aib diri dan orang klain, menipu, dan kegiatan-kegitan buruk lainnya. Teknologi akan semakin maju, manusia yang memanfaatkannya bisa semakin maju pula atau malah semakin rusak.

Kemajuan teknologi yang pesat itu menantang kita untuk menjadi orang-orang yang mengetahui dan menguasai teknologi, jangan sampai menjadi “gaptek” atau gagap teknologi. Jadi, gunakan masa remaja dengan mempelajari dan menguasai teknologi yang sedang berkembang itu.

Tantangan berikutnya adalah semakin berkurangnya kesempatan kerja. Secara nyata bisa kita saksikan ketika ada suatu lowongan kerja sedang dibuka. Ratusan bahkan ribuan orang mengikuti test bersaing memperebutkan pekerjaan yang tidak lebih dari sepuluh. Wirausaha juga demikian, semakin lama semakin banyak orang yang membuka usaha sejenis, apalagi jika usaha yang mudah-mudah saja. Naiklah bis dari Malang ke arah mana saja, maka akan anda temui beberapa orang pengamen bergiliran nail bis memperebutkan recehan koin penumpang. Lihatlah jejeran pedagang kaki lima di tepian jalanyang semakin lama semakin banyak jumlahnya. Mau jadi artis, penyanyi? Ratusan orang mengantri berderet-deret mendaftar Indonesian Idol atau acara sejenis lainnya. Hanya satu yang akhirnya menjadi bintang.

Apa artinya semua itu? Semakin lama persaingan akan semakin ketat. Hanya orang-orang yang mampu dan mempunyai kelebihan yang akan memenangkan persaingan. Masa remaja adalah masa untuk menempa diri, meningkatkan kemampuan, pengetahuan, dan keterampilan. Persaingan makin keras. Orang-orang unggul yang akan memperoleh kemenangan.

Tantangan terakhir adalah masalah moral atau akhlak. Betapa pentingnya akhlak ini, sampai-sampai Nabi Muhammad SAW bersabda: “Aku ini diutus tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak.” Jadi muara dari segala aspek ajaran agama itu adalah akhlak, moralitas. Semakin orang bisa mengahayati ajaran agama semakin mulia akhlak atau moral yang dimilikinya.

Kemajuan IPTEk dan persaingan ketat bisa memaksa orang mengabaikan moral untuk memanfaatkan atau meraihnya. Inilah aspek yang harus diperhatikan sebagai efek negatif dari kemajuan-kemajuan dan tantangan di masa mendatang. Di masa sekarang saja kita cukup prihatin dengan moralitas yang berkembang di tengah masyarakat. Kejahatan-kejahatabn yang dulu hanya kita dengan dalam dongeng-dongeng, sekarang bisa kita saksikan dalam kehidupan nyata sehari-hari. Anak membunuh orangtua, orangtua membunuh anak, mutilasi, penganiayaan, penyalahgunaan narkoba, hampir tiap hari ditayangkan di televisi dan media lainnya. Agama dilecehkan, munculah orang-orang yang mengaku nabi, perkawinan diabaikan, dana aturan agama disingkirkan. Ukuran moral menjadi tidak jelas.

Pekerjaan makin sulit, maka manusia-manusia bermoral rendah menempuh segala macam cara untuk memperoleh uang. Korupsi, suap, tipu-menipu, menjadi hal “biasa”, tidak ditabukan lagi. Lahirlah generasi “Bento” (Lagunya Iwan Fals). Ingat syairnya? Ini sebagiannya,

Namaku Bento, rumah real estate, … bisnisku menjagal, jagal apa saja, yang penting aku suka, … omong soal moral, khutbah keadilan, sarapan bagiku … bisnis tipu-tipu lobbying dan upeti oo jagonya .. maling kelas teri, berandal kelas coro itu kan tong sampah …

Untuk membentengi diri dari perilaku negatif tersebut, para remaja harus membekali diri dengan pemahaman moral, akhlak, yang baik. Semakin berakhlak seseorang semakin dia bisa diterima masyarakat di semua lapisan. Hampir semua agama mengajarkan keluhuran moral, maka memahami agama dengan sebaik-baiknya adalah cara yang paling tepat untuk meningkatkan moral atau akhlak seseorang. Agama bukan sekedar simbul sosial, tetapi harus terwujudkan dalam keluhuran perilaku sehari-hari. Ibarat sebuah pohon rindang yang menghunjam kokoh di atas bumi, daun rindang dan buah ranum yang bisa dinikmati banyak orang adalah akhlak.

At last, masa remaja harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mengahadapi tantangan di masa mendatang yang semakin berat dan kompleks. Ingat pesan Nabi, gunakan masa mudamu sebelum datang masa tuamu.

No comments:

Post a Comment